Halo, kembali lagi dengan saya, Ang.
Hampir setahun nganggurin blog yang satu ini (cuma untuk tugas kuliah aja jadi saya tinggal HAHAHA), sehabis nonton Dilan 1990 tadi siang, saya berpikir untuk menulis blog lagi. Btw, mungkin blog yang ini (nacchatime) akan saya jadikan blog curhat saya; sesuai motto hidupnya Hiroki yang saya bincangkan di entri sebelumnya. Sementara yang satu lagi (theirlovetheirbonds) akan saya jadikan blog sampah untuk menulis apa saja kesukaan saya.
Terus, apa hubungannya dengan abis nonton Dilan 1990 dan jadi ingin nulis lagi?
Gak ada sebenernya. ((YAUDAH))
Jadi, tahun ini adalah tahun ke 4 saya di sekolah tinggi. Barusan saya ngecek blog satu lagi, dan saya lihat di salah satu entri terakhir berisi curhatan saya yang abis ikut UN 2014 yang soalnya naujubilah susah banget dan angkatan 2014 se nusantara protes pada menteri pendidikan saat itu, Muhammad Nuh. Dan sekarang tahun 2018, sudah 4 tahun berlalu ketika saya ikutan protes soal UN Internasional itu, akhirnya masuk swasta, meskipun jurusan yang saya masuki adalah jurusan dengan passion saya.
Banyak hal yang sudah dilalui selama 4 tahun itu, dan baru seminggu yang lalu, saya menuju sebuah 'gerbang' menuju masa depan, dan saya diharuskan untuk membuat 'kunci' gerbang itu dalam satu semester mendatang.
Atau lebih tepatnya, skripsi.
Sebagai seseorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang memulai masa-masa stress dengan jerawat tumbuh di pipi dan di jidat karena banyak pikiran (serius saya butuh Nature Republic buat jadi sleeping mask saya), masa-masa semester 7 kemarin menjadi tangga pertama saya dan teman-teman untuk mencapai gerbang masa depan. Dimulai dengan semua kelas berat macam dokkai, tsuuyaku, dan kankou gaido yang bobotnya 4 sks semua, statistik yang meskipun cuma 2 sks tapi bikin mumet ke tulang-tulang, hingga mata kuliah Seminar Desain Skripsi yang selalu bikin tegang dengan hawa dingin menjalar di hari Rabu.
Ngomong-ngomong, mata kuliah hari Rabu itu sangat spesial bagi saya dan teman-teman (kalau tadi saya bilang mata kuliah yang paling tegang, memang iya, tapi saya rasa nggak setegang angkatan si Senpai Kesayangan kita yang udah lulus tahun 2016 lalu, tentu saja karena kelas saya isinya anak stress semua). Dalam mata kuliah itu kita dituntut untuk berlatih membuat proposal skripsi dengan baik dan benar. Saking stress nya kita menghadapi mata kuliah itu, saya membuat sebuah album shitposting di FB saya. Judul album itu adalah 'Prahara Rumah Tangga'.
Isi album tersebut kebanyakan isinya adalah chat-chat sampah saya dan teman-teman yang menggalaukan hari rabu. Chat-chat sampah itu antara lain
"Eh besok harus banget presentasi ya?"
"Harus banget, nih?"
"Gaberani gue anjir"
"Yaudah gimana kalau besok kita pura-pura gila aja"
"Atau pura-pura kesurupan"
Atau akhirnya setelah presentasi kloter pertama, kita foto-foto sama beliau. Terus yang diupload yang fotonya burem dengan caption;
"Hayo tebak sensei-nya yang mana"
Kebetulan facebook saya berteman dengan dosen-dosen (termasuk dosen sds saya). Jadi sebenarnya beliau udah tau kelakuan saya dan teman-teman yang suka nyampah ngomongin mata kuliah beliau, cuma kayaknya beliau udah pasrah aja ngadepin anak-anak kayak kita. Saya curiga album Prahara Rumah Tangga itu difollow sama beliau (Sensei nun jauh di sana: "Geer deh kamu!) Ngomong-ngomong, chat soal pura-pura kesurupan itu langsung dikomen begini sama sensei;
"Terusin aja rencananya saya ga baca kok"
Itu adalah momen terngakak sepanjang hidup saya di sosial media.
Percaya atau tidak, dari album itulah saya dan kawan-kawan bisa dekat dengan dosen-dosen. Kadang kita ngopi bareng, kadang kita beliin beliau kopi atau jus alpukat, kadang cuma nongkrong aja di depan kampus sambil ngeghibah :(, atau kadang modus aja di ruang dosen gangguin dosen yang ada di ruangan. Dan sebenernya saya curiga kalau kami diomongin di grup wa dosen-dosen, soalnya dosen beda jurusan sampai tau kelakuan kami HAHAHAH (sensei nun jauh di sana : Kalian periksa jiwa gih pakai bpjs kan gratis)
Meskipun dekat sama dosen-dosen, tentu saja dosen-dosen saya sangat profesional menghadapi mahasiswa rawat jalan macam kita (julukan ini juga dikasih sama salah satu dosen saya). Karena itulah sepertinya mereka sengaja bekerjasama dengan semesta untuk menggabungkan semua tugasnya dalam satu bulan; Desember 2017.
Desember kemarin, kalau boleh jujur, adalah bulan yang sangat berat bagi kami. Tugas proposal, presentasi, mengurus jalan-jalan, memesan travel, menjadi guide orang Jepang, membuat pertunjukan drama dengan menyatukan 14 kepala dengan jati diri semuanya yang berbeda. Desember kemarin adalah keadaan di mana saya stress banget (gatau temen-temen saya stress juga gak sih hehe), bahkan rela gangguin temen yang udah lulus buat bantu bikin drama (Maafin gue ya Putri nanti gue traktir teh kotak rasa tawar), dan rela untuk ngekos seminggu demi drama bareng Sarrah dikostan mantan doi dengan banyak pengalaman.
Sebagai orang yang kayaknya tingkat anxiety nya udah lumayan parah tapi gapernah ke psikolog (Sensei : Gunain BPJS nya makanya!) dan bikin temen-temen sebel, banyak hal yang bikin saya mau nyerah di bulan Desember kemarin. Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada teman-teman (dan juga Kevin, tentunya) untuk segala bantuannya di Desember kemarin.
Lalu pada bulan Januari, pertarungan dengan diri sendiri dimulai.
Saya ingin mengajukan judul yang agak berdeda dengan judul proposal saya sebelumnya di kelas sds, dan ketika saya ingin mengajukan itu kepada dosen tentu saya keringet dingin. Takut ditolak. Takut ditentang. Saya kepikiran, asam lambung yang sudah hampir sembuh kemudian naik lagi, hingga awal Februari kemarin diadakan seminar proposal satu angkatan untuk penentuan judul skripsi.
Saking depresinya judul akan ditolak, saya dengan songong nya bikin nazar ga sengaja di fb;
"Kalau gue dapet lima yes dari sensei gue bakal joget vitas 7th element depan kampus"
Hari itu hari Sabtu, 3 Februari. Saya datang ke kampus sebelum zuhur dengan pikiran kacau dan tumpukan beban dari hari sebelumnya. Penekanan di mana-mana, jantung saya berdenyut ga karuan (efek asam lambung juga), hari itu adalah hari di mana rasanya saya akan melamar seseorang di hadapan orang banyak, dan orang yang akan saya lamar membawa lima orang keluarganya yang sangar-sangar. Saya terus menulis dan mencatat, dengan efek asam lambung yang naik dan bikin cegukan, bikin kepala saya sakit luar biasa, saya bertahan sampai abis ashar.
Jadwal ditentukan sehabis ashar. Ketika waktu itu datang, kepala saya sakit luar biasa, saya harus berjalan di belakang teman-teman karena harus pegangan di sandaran tangga dan berjalan pelan-pelan. Begitu masuk sudah lumayan ramai karena seangkatan.
Saya memilih duduk di tengah, sambil nyimeng promag dan fresh care di kepala.
Lalu satu persatu dosen masuk, bikin makin tegang.
Seharusnya saya maju urutan ketiga, tapi digeser oleh kelas lain, biar adil katanya.
Akhirnya saya maju urutan kesepuluh.
Saya maju dengan perasaan kalut, lalu duduk di hot seat. (HAHAH) Kursi itu berada di tengah-tengah ruangan, dengan proyektor penampil judul di hadapan saya, lalu dengan 3 dosen di samping kanan saya, rektor yang tepat di sebelah saya, dan dosen ketua jurusan yang di sebelah layar monitor. Layar berganti dengan judul yang saya ajukan.
Tangan saya dingin, kepala saya sakit.
Semua dosen membaca judul saya, tapi dosen sds saya belum.
Saya masih ingat dengan jelas ketika dosen favorit saya di semester 6 mencolek dosen sds, "Mam itu judulnya."
Beliau melirik judul saya, saya melirik beliau sambil nyengir miris dengan harapan beliau mengerti kenapa saya mengganti beberapa kata dalam judul saya.
Lalu beliau berkata, "Oke."
Lalu dosen favorit saya, "Oke."
Lalu dosen yang biasa kami panggil mamih, "Oke."
Lalu dosen ketua jurusan, "Oke,"
Lalu yang terakhir, rektor saya, "Oke."
Lalu tepuk tangan keras di belakang saya terdengar, bersamaan dengan gumaman-gumaman teman angkatan saya.
Saya masih shock judul saya diterima begitu saja.
Ya, alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah.
Saking shock dan awkward nya, saya melakukan kesalahan kecil dengan lupa menyerahkan formulir penyerahan judul saya, sampai akhirnya diteriakin dosen-dosen dan teman untuk menyerahkan dokumen itu pada ketua jurusan.
Terus saya lupa salim sama dosen-dosen. Haha. (akhirnya salim pas mau balik)
Saya duduk, lemas, seketika sakit kepala saya berangsur-angsur memudar (karena stress nya ilang dikit mungkin wkwk), saya menangis.
Menangis ya karena, beban saya berkurang satu. Nggak tambah ringan, tapi serasa melegakan.
Saya ketawa ketika teman-teman saya mengucapkan selamat. Sampai akhirnya si Diana menunjukkan sebuah screenshoot facebook.
Itu nazar saya.
"Ini nazar lo penuhin ya. WAHAHAHAHAH"
Anjing, kata saya.
"Faaaaaaaaaaaaak."
Sampai tulisan ini ditulis, saya belum memenuhi itu karena saya pribadi pengin melakukannya di depan teman-teman saya, lagian itu saya nulisnya juga ga niat. Saya gapernah yakin kalau saya bakal dapat lima yes dari dosen, dan ternyata semesta sedang iseng sama saya. Saya kualat kayaknya.
Ngomong-ngomong, si Diana juga ngenazar yang aneh-aneh kok. Nazar dia adalah 'Kalau judul gue diterima gue bakal mencintai Tsurumaru Kuninaga dan Kikko Sadamune selama sebulan'
Lalu judulnya diterima.
Diana nangis ketika kembali ke tempat duduk, saya menariknya dan kita berpelukan erat namun ga erat-erat banget kayak Dilan Milea (yaudah)
Karena dari awal kita suka Touken Ranbu, dan udah buat perjanjian sendiri di awal semester tujuh; dengan tangan kanan bersalaman seolah sedang melakukan Perjanjian Tak Terlanggar kita berdua pernah mengucap;
"Kita harus skripsian soal Touken Ranbu. Kita harus lolos dan bisa buktiin ke senpai kalau kita bisa."
Dan hari itu, kita akhirnya sampai ke gerbang masa depan.
Masih di depan gerbang, namun setidaknya sudah sampai.
Di antara semua kontributor album shitposting Prahara Rumah Tangga, alhamdulillah semuanya lolos dengan judul pertama yang diajukan. Saya bisa lihat senyum sensei ketika kami semua menolak untuk pergi dari ruangan saat si Arif, kontributor prahara terakhir yang belum dapat giliran maju (padahal sudah diusir).
Jadi, mulai hari ini, ketika entry ini ditulis, saya ingin menyampaikan;
Anggita Octavi Syukma, akan melangkah menuju masa depan.
Anggita Octavi Syukma, akan mengubah dunia dengan menuju cita-citanya.
Semua baru dimulai dari sekarang.
Motto saya masih sama seperti entry pertama; Hibizenshin. Day by Day Advance.
Bismillahirrohmanirrohim, dengan ini, perjalanan untuk membuka kunci gerbang masa depan, akan saya mulai.
Siapapun yang menemukan blog ini dan membacanya sampai titik di bawah ini, doakan saya dan teman-teman saya semoga kami bisa mempunyai kekuatan dan kuasa untuk melanjutkan segalanya. Dan doakan dosen-dosen yang saya sayangi untuk selalu sehat dan selalu sabar menghadapi kami; pasiennya; pasien rawat jalan.
Semoga kita selalu bahagia.
Ini adalah perjuangan.
Regards,
Ang.
(Yang baru mau ngetik kerangka penulisan skripsi)